CARA MEMBUAT KOMPOS

Diposkan oleh A SA
Rabu, 12 Januari 2011

Ini adalah bulan kelima aku mencoba mengelola sampah rumah tangga menggunakan cara takakura.
Sampah biasanya kubuang seminggu sekali. Sambil membawa kresek sampah seminggu sekali biasanya kubuang di tempat penampungan sampah kedung cowek. Pekerjaan yg sangat menyiksa (hahaha) tapi harus dilakukan, apalagi selalu saja belatung muncul di dalamnya.. ih.. jijay deh.
Tapi itu dulu, sejak lima bulan lalu aku menggunakan teknik takakura. Setelah baca sana-sini, takakura itu intinya sampah jangan sampai basah dan kubur dengan humus.
Model tempat sampahku terdiri dari :
1. Kardus bekas Mie
2. Tempat sampah yg pas utk kardus Mie (aku sendiri pake kayu biasa sbg tempatnya)
3. Humus / kompos dari tanaman
4. Serbuk kayu
Cara buatnya :

  • Tempat sampah diisi serbuk kayu sebagai tempat serapan air. alangkah baiknya jika serbuk dimasukkan ke dalam kain, karena dr beberapa percobaan kalau tidak dimasukkan kain akan dibawa semut, sehingga sekeliling tempat sampah jadi sarang semut dan serbuk kayu berceceran.
  • Isi kardus di atas serbuk kayu tersebut dengan humus / kompos yg sudah jadi. Jangan menggunakan kompos dari hewan karena baunya gak ketulungan. Isi kompos sampai setengahnya.
  • Tutup atasnya dengan apa saja, yg penting gak bisa dimasukin bangsa tikus.
Sampah dapur masukkan saja semua kesitu, lalu timbun sampah dengan kompos yg ada.
Sebagai acuan efektifitas takakura ini, hasil limbah ikan biasanya langsung kumasukkan kesana, dan hasilnya tidak amis sama sekali.
Bahkan kalau ada sisa jeruk kumasukkan, maka baunya menjadi bau jeruk.
Satu hal yg aneh, sampah ini sampai 2-3 bulan tidak penuh. Pembuatan baru itu hanya karena kardus yang jadi lembek atau lagi kepingin buat pupuk untuk tanaman.





Masalah sampah di hampir semua kota di Indonesia makin terbuka ke permukaan. Diperlukan paradigma bahwa sebagai material sisa dari setiap proses, sampah memiliki keterpakaian dalam proses lainnya. Sampah organik bisa digunakan bagi pembuatan pupuk kompos, dan anorganik bisa di daur ulang menjadi barang baru. Penanganannya agar memberikan kemanfaatannya kepada banyak pihak, manakala dilakukan terdesentralisasi, melibatkan partisipasi dan berbasis komunitas.

Poskan Komentar

Blogger Template New Plus Blue

Designed by : Edo Pranata XML Coded by : Edo Pranata